Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat Datang di Blog kami semoga Bermanfaat..aamiin.

Senin, 14 Agustus 2017

TUNTUNAN SHOLAT IDUL ADHA

1. Anjuran Sebelum Shalat Idul adha
a. Berpuasa sejak fajar sampai dengan selesai shalat Id, Berdasar Hadist : “  Artinya: “Dari ‘Adullah Ibnu Buraidah [diriwayatkan]dari ayahnya [yaitu Buraidah Ibnu al-Husaib], ia berkata: Rasulullah saw. pada hari Idul fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul adha tidak makan sampai shalat lebih dahulu” [HR at-Turmudzi].
b. Berhias dengan memakai pakaian bagus dan wangi-wangian. Berdasar Hadist : “  Artinya: “Dari Ja‘far Ibnu Muhammad, dari ayahnya,dari kakeknya [diriwayatkan] bahwa Nabi saw. Selalu memakai wool (burdah) bercorak [buatan Yaman] pada setiap Id” [HR asy-Syafi‘i dalam kitabnya al-Musnad].
Artinya: “Dari al-Hasan cucu Rasulullah saw.[diriwayatkan] bahwa ia mengatakan: Kami diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk pada dua hari raya[Idulfitri dan Iduladha] memakai pakaian terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada, dan menyembelih binatang kurban tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang) dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan” [Al-Hakim menyatakan Ishaq Ibnu Barzakh sebagai majhul, padahal sebenarnya tidak majhul. Al-Azdi mendaifkannya, sementara Ibnu Hibban menyatakannya tsiqah (terpercaya), demikian ditegas-kan di dalam at-Talkhish karangan Ibnu Hajar].

c. Berangkat dengan berjalan kaki dan pulang melalui jalan lain, sambil bertakbir, Berdasar Hadist : “
Artinya: “Dari ‘Ali Ibnu Abi Thalib [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Merupakan sunnah bahwa engkau keluar untuk shalat Id dengan berjalan kaki ...” [HR at-Turmudzi. Ia mengatakan: Ini adalah hadis hasan].
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. [diriwayatkan] bahwa Nabi saw. apabila keluar pergi shalat Id, beliau kembali dengan melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi” [HR. Ibnu Majah].
Artinya: “Hal yang demikian disebutkan juga oleh al-Baghawi dan al-Baihaqi: Adalah Ibnu Umar itu sebagai orang yang selalu memperhatikan tuntunan (Nabi saw.), dia membaca takbir dari rumahnya sampai ke tempat shalat.”
d. Semua umat Islam hendaknya hadir, baik tua, muda, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan, bahkan perempuan yang sedang haid, meskipun tidak ikut shalat dan tidak masuk ke dalam saf shalat, namun ikut mendengarkan pesan-pesan Iduladha yang disampaikan oleh khatib, Berdasar Hadist : “ Artinya: “Dari Ummu ‘Athiyyah [diriwayatkan] bahwa ia berkata: Rasulullah saw. memerintahkan kami supaya menyuruh mereka keluar pada hari Idulfitri dan Iduladha: yaitu semua gadis remaja, wanita sedang haid dan wanita pingitan. Adapun wanita-wanita sedang haid supaya tidak memasuki lapangan tempat shalat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya itu dan panggilan kaum Muslimin. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana salah seorang kami yang tidak mempunyai baju jilbab? Rasulullah menjawab: Hendaklah temannya meminjaminya baju kurungnya.”[HR al-Jama‘ah, lafal dari Muslim]

2. Tatacara Shalat Iduladha
a. Berbeda dengan shalat Idul fitri yang dikerjakan setelah matahari berketinggian dua kali panjangnya penggalah (kurang lebih 6 m), shalat Idul adha dikerjakan setelah matahari meninggi kurang lebih satu penggalah (yaitu setelah lewat sekitar setengah jam sejak terbitnya). Hal ini didasarkan pada hadis Nabi saw. berikut: Artinya: “Dari Jundub [diriwayatkan], ia berkata: Adalah Nabi saw. melakukan shalat Idulfitri bersama kami ketika matahari setinggi dua penggalah dan Iduladha ketika matahari setinggi satu penggalah” [HR Ahmad].
b. Shalat Id diselenggarakan di lapangan, tidak di masjid, kecuali kalau hari hujan yang tidak memungkinkan
melaksanakannya di lapangan. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. yang senantiasa mengerjakan shalat Id di mushallaa, yaitu tanah lapang yang terletak 1000 hasta (200 meter) dari masjidnya pada waktu itu. Beliau tidak pernah mengerjakan shalat Id di masjid, kecuali sekali karena hari hujan.
Artinya: “Dari Abu Said al-Khudri [diriwayatkan], ia berkata: Rasulullah saw. pada hari Idulfitri dan Iduladha selalu keluar menuju lapangan, lalu hal pertama yang ia lakukan adalah shalat ...” [HR al-Bukhari].
Artinya: “Dari Abu Hurairah [diriwayatkan], bahwa mereka (para Sahabat) pada suatu hari raya mengalami hujan, lalu Nabi saw. melakukan shalat bersama mereka di masjid” [HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim. Ia (al-Hakim) mengatakan: Ini adalah hadis sahih sanadnya].
c. Imam hendaklah membuat sutrah (batas) di mukanya dengan suatu benda agar tidak dilalui seseorang
sehingga shalatnya lebih khusyuk. Artinya: “Dari Ibnu Umar [diriwayatkan], bahwa Rasulullah saw. apabila keluar untuk shalat Id memerintahkan agar menancapkan tombak di depannya. Kemudian beliau shalat menghadap kepadanya sementara jamaah berada di belakangnya” [Muttafaq alaih].
d. Shalat Id dilaksanakan dua rakaat, tanpa disertai shalat sunat sebelum atau sesudahnya, tanpa azan, iqamat, ataupun bacaan ash-shalatul jami'ah, Berdasar Hadist : ‘ Artinya: “Dari Ibnu Abbas [diriwayatkan] bahwasanya Rasulullah saw. keluar pada hari Iduladha atau Idulfitri, lalu shalat dua rakaat, dan tidak mengerjakan shalat apapun sebelum maupun sesudahnya …” [HR tujuh ahli hadis, dan lafal ini adalah lafal al-Bukhari].
Artinya: “Dari Jabir [diriwayatkan], ia berkata: Aku menjadi saksi shalat bersama Rasulullah saw. pada
suatu hari raya, beliau mulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa azan dan iqamat …” [HR an-Nasa'i].
e. Pada shalat Id, sesudah takbiratul-ihram rakaat pertama dilakukan takbir sebanyak tujuh kali dan pada rakaat kedua sesudah takbiratul-qiyam (intiqal) dilakukan takbir sebanyak lima kali. Pada semua takbir itu tangan diangkat hingga setentang dengan telinga sebagaimana lazimnya dalam setiap takbir. Hal ini berdasarkan kepada keumuman hadis Nabi saw. yang menyatakan bahwa setiap takbir diangkat kedua tangannya. Tidak ada tuntunan dari Nabi saw. tentang dzikir atau bacaan di sela-sela dua takbir dari takbir-takbir tersebut, Berdasar Hadist : “ Artinya: “Dari Amr Ibnu Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya [diriwayatkan] bahwa Nabi saw. pada hari Id bertakbir dua belas kali: tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, dan beliau tidak melakukan shalat sunat apapun sebelum dan sesudahnya …” [HR Ahmad dan Ibnu Majah].
Artinya: “Dari Aisyah [diriwayatkan] bahwa Rasulullah saw. pada shalat dua hari raya bertakbir tujuh kali dan lima kali sebelum membaca (al-Fatihah dan surat)” [HR Ahmad].
Artinya: “Dari Wail Ibnu Hujr al-Hadrami [diriwayatkan] bahwa ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw.
mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir” [HR Ahmad dan Abu Dawud].
f. Sesudah takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dibaca surat al-Fatihah yang diikuti dengan surat al-A‘laa (surat no. 87), atau surat Qaaf (surat no. 50), dan pada rakaat kedua sesudah takbir lima kali selain dari takbiratulintiqal (qiyam) dibaca surat al-Fatihah yang diikuti dengan surat al-Ghaasyiyah (surat no. 88) atau surat al-Qamar/Iqtarabatis-Saa‘ah (surat no. 54). Berdasar Hadist : “ Artinya: “Dari an-Nukman Ibnu Basyir [diriwayatkan], ia berkata: Adalah Rasulullah saw. pada shalat dua hari raya dan pada shalat Jum’at membaca sabbihisma rabbikal-a‘laa dan hal ataaka hadiitsul-ghaasyiyah. (An-Nukman) berkata lagi: Dan apabila Id bertemu dengan Jum’at pada hari yang sama, beliau membaca kedua surat itu juga dalam kedua shalatnya” [HR Muslim
Artinya: “Dari Ubaidullah Ibnu ‘Abdillah [diriwayatkan]bahwa Umar Ibnu al-Khattab bertanya kepada Abu Waqid al-Laitsi mengenai apa yang dibaca oleh Rasulullah saw. pada shalat Iduladha dan Idulfitri, maka ia (Abu Waqid) menjawab: Adalah beliau pada shalat dua hari raya membaca qaaf wal-qur’aanil-majiid dan iqtarabatis-saa‘ah wansyaqqal-qamar[HR para ahli hadis, kecuali al-Bukhari].

3. Khutbah Idul adha
Sesudah selesai melaksanakan shalat Id dua rakaat, imam langsung berkhutbah satu kali, tidak diselingi dengan duduk antara dua khutbah. Khutbah dimulai dengan tahmid (membaca al-hamdu lillah), tidak dengan takbir karena tidak ada riwayat sahih yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. memulai khutbah Id dengan takbir.

Hanya saja dalam khutbah Id memang diperbanyak menyelingi dengan bacaan takbir, bukan dimulai dengan takbir. Khutbah diakhiri dengan doa, dengan mengangkat tangan jari telunjuk tangan kanan, sebagaimana pada khutbah Jumat. Berdasar Hadist : “ Artinya: “Dari Abu Said al-Khudri [diriwayatkan] bahwa ia berkata: Rasulullah saw. keluar pada hari raya Idulfitri dan Iduladha menuju lapangan tempat shalat, maka hal pertama yang beliau lakukan adalah shalat, kemudian manakala selesai beliau berdiri menghadap orang banyak yang tetap duduk dalam saf-saf mereka, lalu beliau menyampaikan nasehat dan pesan-pesan serta perintah kepada mereka; lalu jika beliau hendak memberangkatkan angkatan perang atau hendak memerintahkan sesuatubeliau laksanakan, kemudian beliau pulang” [Muttafaqalaih]



Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Monggo Sarang & Kritiknya !