I. IBADAH DI BULAN ZULHIJJAH :
Sesuai dengan tuntunan agama Islam, umat Islam dirasa perlu untuk
menghidupkan amal-amal sunnah pada bulan Zulhijjah. Bagaimana pun juga,
meskipun hanya merupakan amalan sunnah, sangat disayangkan apabila kaum
Muslimin melewatkannya begitu saja. Melalui amal-amal sunnah inilah, kecintaan
Allah kepada hamba-Nya akan semakin bertambah. Janji Allah akan berlimpahnya
pahala amalan sunnah, khususnya kurban sebagai wujud ketakwaan, tentu bukanlah
sebuah omong kosong. Sehingga sudah sepantasnyalah setiap orang Islam
berlomba-lomba untuk dapat menjalankannya sebaik yang ia bisa dan sekuat yang
ia mampu.
Berikut amlalan yang sangat dianjurlan :
A. Memperbanyak Amal Saleh
Rasulullah saw. memberikan tuntunan
agar pada awal-awal bulan Zulhijjah umat Islam meningkatkan amal saleh dan memperbanyak
bacaan tahlil, tahmid dan takbir.
Hal ini berdasarkan hadis-hadis Nabi
saw. sebagai berikut:
Artinya: “Dari Ibnu Abbas [diriwayatkan bahwa], sesungguhnya Nabi
saw. bersabda: Tiada hari-hari yang amal saleh lebih disukai Allah ‘Azza wa
Jalla (mengerjakannya) daripada hari hari ini, yaitu hari-hari sepuluh
(permulaan bulan Zulhijjah). Para Sahabat bertanya: Ya Rasulullah, bahkan
berjihad di jalan Allah sekalipun? Beliau bersabda: Benar, bahkan berjihad di
jalan Allah sekalipun, kecuali orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya,
kemudian tidak satupun dari keduanya yang kembali (mati syahid)” [HR Jamaah ahli hadis kecuali Muslim dan an-Nasai]
Artinya: “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw.
[diriwayatkan bahwa] beliau bersabda: Tiada hari-hari yang lebih disukai Allah
untuk beribadat kepada-Nya daripada sepuluh hari (permulaan) bulan Zulhijjah,
berpuasa setiap hari sebanding dengan puasa satu tahun dan shalat pada malam
harinya sama dengan shalat pada Lailatul-Qadar” [HR at-Turmudzi, Ibnu Majah dan al-Baihaqi].
B. Puasa Arafah
Puasa Arafah ialah puasa yang dilakukan pada
tanggal 9 Zulhijjah, pada saat kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji
wukuf di Padang Arafah. Sedangkan bagi kaum muslimin yang sedang wukuf di
Arafah dilarang berpuasa. Puasa Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun,
yang lalu dan yang akan datang. Hal ini berdasarkan pada hadis berikut:
Artinya: “Dari Qatadah [diriwayatkan bahwa],
sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Puasa pada hari Arafah dapat menghapus
dosa selama dua tahun, yang lalu dan yang akan datang, sedang puasa hari Asyura
dapat menghapus dosa tahun yang lalu” [HR Jamaah ahli hadis kecuali
al-Bukhari dan at-Turmudzi].
Artinya: “Dari Abu Hurairah [diriwayatkan
bahwa], ia berkata: Rasulullah saw. melarang puasa pada hari Arafah bagi orang
yang sedang (wukuf) di Arafah” [HR Ahmad dan Abu Dawud].
C. Takbir Idul adha
Takbir adalah ekspresi kesadaran terhadap keagungan asma Allah dan
kenisbian manusia di hadapan-Nya serta sebagai tanda syukur atas petunjuk yang
diberikan-Nya. Takbir juga merupakan syiar agama Islam. Takbir dapat dilakukan
di masjid-masjid, di rumah-rumah dan di jalan-jalan, baik oleh mereka yang
mukim maupun mereka yang musafir. Dalam pelaksanaan takbir (di masyarakat lebih
dikenal dengan sebutan takbiran) umat Islam diharapkan tetap dapat menjaga
ketertiban umum. Ucapan takbir itu adalah;
Allaahu akbar Allaahu akbar, Laa
ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil-hamd.
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar,
Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha besar, Allah Maha besar dan segala puji
bagi Allah.”
Ucapan takbir tersebut didasarkan pada hadis berikut:
Artinya: “Dari Salman [diriwayatkan bahwa], ia berkata: Bertakbirlah
dengan: Allaahu akbar, Allaahu akbar kabiiran.
Dan dari Umar dan Ibnu Mas‘ud [diriwayatkan]: Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu
akbar, Allaahu akbar wa
lillaahil-hamd” [HR ‘Abdur-Razzaaq,
dengan sanad sahih].
Adapun waktu bertakbir menjelang
Iduladha, sudah dapat dimulai sejak sesudah subuh hari Arafah dan diakhiri
sebelum maghrib hari tasyriq yang ke-3 (13 Zulhijjah). Hal ini sesuai dengan
Keputusan Muktamar Tarjih XX tahun 1976 di Garut Jawa Barat (Tanfiz Pimpinan
Pusat Muhammadiyah tahun 1977 No. C/1-0175/77), berlandaskan pada hadis
berikut: Artinya: “Dari
Jabir ibn Abdillah [diriwayatkan bahwa], Nabi
saw. membaca takbir sejak sesudah
shalat subuh pada hari Arafah sampai Asar hari tasyriq terakhir” [HR al-Baihaqi
dan ad-Daruquthni]. Diriwayatkan juga dari al-Hakim dari jalan lain dari Qathur ibnu
Khalifah dari Abi Fadlah, dari Ali dan Ammar, al-Hakim berkata: riwayat
tersebut sahih lagi dibenarkan oleh perbuatan Umar, Ali, Ibnu Abbas, dan Ibnu
Mas’ud.
D. Shalat Idul adha
Iduladha disebut juga ‘Idul-Qurban
atau hari raya kurban, karena pada hari itu dilaksanakan ibadah kurban,
yaitu menyembelih hewan ternak yang sudah ditentukan. Iduladha dirayakan dengan
mengerjakan shalat Iduladha dan penyembelihan hewan kurban. Ibadah ini
disyariatkan pada tahun pertama Nabi Muhammad saw. sampai di Madinah. Disebutkan
dalam hadis sebagai berikut:
Artinya: “Dari ‘Aisyah [diriwayatkan bahwa], ia mengatakan: Rasulullah
saw. bersabda: Idulfitri adalah hari ketika orang berbuka puasa dan Iduladha
adalah hari ketika orang menyembelih kurban” [HR at-Turmudzi].
Artinya: “Dari
Anas Ibnu Malik [diriwayatkan] ia berkata:Rasulullah saw. tiba di Madinah (dan
beliau melihat) mereka mempunyai dua macam hari yang mereka meriahkan dengan permainan.
Beliau bertanya: Hari apa ini? Mereka menjawab: Di zaman Jahiliyah kami
memeriahkannya dengan permainan. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya
Allah telah mengganti kedua hari ini untuk kamu dengan yang lebih baik, yaitu Iduladha
dan Idulfitri” [HR Abu Dawud dan an-Nasa’i].



Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !