Ada sebuah kisah tentang Umar bin al-Khathab yang
diceritakan oleh Abdullah bin Umar ra (putera beliau). Dikisahkan, bahwa pada
suatu hari Umar bin al-Khathab keluar meninjau kebun kurmanya. Selang beberapa
lama, kemudian beliau kembali ke rumah. Ketika tiba di dalam kota Madinah,
beliau melihat orang-orang sudah selesai melaksanakan jamaah shalat Ashar.
Beliau sangat menyesal dan berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku
terlambat melaksanakan shalat Ashar berjamaah lantaran kebun kurma itu! Ya Allah,
saksikanlah! Kebun kurma itu kusedekahkan ‘sekarang juga’ kepada para fakir
miskin sebagai kifarat atas kealpaan yang telah kulakukan.” Beliau menyesal,
karena asyiknya berada di kebun kurma, shalat jamaah ashar yang biasa beliau
kerjakan ‘tertinggal’ karenanya.
| Bimbingan Belajar Anak Asuh oleh Relawan Mitra Peduli Panti Asuhan Muhammadiyah |
Kisah ini memang sangat sederhana, tetapi sarat makna.
Betapa tidak! Seorang yang hatinya telah ‘terkait’ dengan Allah akan memiliki
kerinduan yang dalam kepada-Nya. Sehingga shalat yang sudah terbiasa dia
kerjakan akan selau didambakan untuk dikerjakan sesempurna mungkin. Untuk
berjamaah Ashar dengan tepat waktu pun menjadi sesuatu yang jauh lebih dianggap
penting daripada urusan dunia apa pun. Termasuk urusan ‘kebun kurma’ yang oleh
sebagian orang pada saat itu dianggap sebagai hal yang sangat penting.
Umar bin al-Khaththab tidak sendiri. Para sahabat
Rasulullah saw yang lain pun memunyai ‘spirit’ yang sama. Tetapi, khusus untuk
Umar bin al-Khathab, berkaitan dengan kebun kurmanya ada nilai tersendiri.
Karena, pada saat itu, kebun kurma beliau sedang menjadi sumber dana yang cukup
penting bagi keluarganya. Tetapi, ketika harus memilih antara harta dan
‘kesempurnaan’ pelaksanaan shalat, Umar bin al-Khathab memilih ‘yang kedua’.
Karena bagi diri Umar, ‘Allah’ adalah kekasihnya yang jauh lebih layak dicintai
dari apa pun, termasuk ‘kebun kurma’ yang sangat memesona.
| Bimbingan Belajar Anak Asuh |
Karena shalat tepat waktu adalah salah satu amal shalih yang paling dicintai
oleh Allah, sebagai hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari Abdullah
bin Mas’ud (Shahih al-Bukhari, I/40 dan Shahih Muslim, I/63) dan Rasulullah saw
pun senantiasa melaksanakannya secara disiplin, Umar bin al-Khathab selalu
berusaha untuk meneladani perilaku Rasulullah saw itu.
Lalu, pertanyaan pentingnya, “Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah
Umar bin al-Khathab ini?”
Saat ini, kita harus semakin sadar, bahwa ‘diri kita’
terlalu sering digoda oleh setan dengan pelbagai kesenangan duniawi. Ada godaan
yang dilakukan oleh setan dengan melalui instrumen harta, jabatan atau pangkat,
dan ada pula godaan ‘syahwat seksual’ yang dalam situasi dan kondisi tertentu tak kalah kuatnya dibandingkan dengan godaan-godaan yang dilakukan oleh setan
dengan menggunakan instrumen yang lain
.
Kalau Umar – dahulu – ‘pernah’ digoda oleh setan dengan
instrumen kebun kurmanya, ‘kita’ pun di dalam kehidupan modern ini – lebih
mungkin akan tergoda oleh setan dengan berbagai instrumen – yang berbeda yang
bisa digunakan oleh para setan dengan kepiawaian mereka untuk memanfaatkannya.
Di samping kekuatan iman kita yang – mungkin saja – belum sebanding dengan
(kekuatan iman) Umar bin al-Khaththab, keragaman instrumen yang dipakai oleh
setan di zaman modern ini tentu saja lebih menggiurkan. Bukan saja shalat
berjamaah Ashar dengan tepat waktu yang bisa kita lalaikan, tetapi lebih daripada
itu semua, banyak hal yang bisa kita lupakan dan menjadikan diri kita lalai
untuk mengingat Allah.
Cobalah kita cermati! Masih adakah – saat ini – orang-orang Islam yang lalai
untuk beramal shalih dalam berbagai ragamnya, karena bujuk rayu setan yang –
dengan keterampilannya dalam menggunakan instrumen ‘harta, tahta, dan wanita’ –
menjadi tergoda dan terjebak dalam bujuk rayu setan itu?
| Anak Asuh Panti Asuhan Muhammadiyah Menjenguk Donatur Yang Sakit.... |
Lalu kita pertanyakan – lebih lanjut – kepada diri kita,
“Apakah kita memang sudah benar-benar ‘siap‘ untuk menghadapi segala macam
godaan setan, dan bersikap seperti Umar bin al-Khathab untuk merelakan semua
instrumen yang ‘bisa’ memberi peluang kepada setan untuk menggoda diri kita?
Sudah siapkah diri kita melepas – dengan ‘ikhlas’ – semua instrumen yang selama
ini kita nikmati yang ternyata telah menjadi instrumen setan – yang cukup
efektif – untuk menggoda diri kita, dengan niat untuk mencari ridha Allah?
Lebih tegas lagi, “apakah kita telah bersedia menjual
tanah, sawah-ladang, rumah dan harta benda kita yang selama ini telah banyak
menjadikan diri kita lalai untuk beribadah kepada Allah?”
Marilah kita belajar dari Umar bin al-Khaththab melalui kisah menariknya,
ketika ‘dia’ merelakan kebun kurmanya demi keinginannya untuk lebih bisa
mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan jangan sampai kita terlena oleh
kenikmatan duniawi yang sering digunakan oleh setan untuk menggoda diri kita,
sehingga kita ‘bisa jadi’ lupa kepada Allah.
Ibda’ bi nafsik!•
Penulis adalah Dosen Tetap FAI UM Yogyakarta dan Dosen Tidak
Tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Semoga Manfaat, kami
mengajak anda bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>>
Layanan Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Krembangan :
1. BRI unit
Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493
08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
> SMS Center :
0815 1518 3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet ) – 0822 4526
5090 ( Bp. Tulus )

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !