| Muslimah Panti Asuhan Muhammadiyah Nyai Walidah |
Kini, masa sulit dan suram untuk jilbab telah lewat.
Jilbab telah menjadi pakaian yang sangat familier untuk semua kalangan kaum
Muslimah, tak terkecuali kalangan elit dari kalangan wanita karir, istri
pejabat hingga artis kelas wahid. Tak ada larangan maupun hambatan hukum,
politik apalagi kultural bagi pengguna jilbab.
Idealisme yang didambakan ketika memperjuangkan jilbab
tentu saja tidak hanya dibolehkannya penggunaan jilbab, tetapi keyakinan bahwa
jilbab tidak sekadar pakaian, tetapi juga simbol ketinggian akhlak bagi
pemakainya. Dengan demikian, siapapun yang tampil dengan jilbab berarti dia
memiliki akhlak yang memadai sebagai cerminan seorang Muslimah yang peripurna.
Dalam kenyataannya, jauh panggang dari api. Merebaknya jilbab ternyata hanya
sekadar fashion trend, yang tak berbanding lurus dengan meningkatnya akhlak
umat. Jilbab merebak tetapi korupsi dan mesum serta perilaku maksiat lainnya
dengan sangat ironis ditampilkan oleh perempuan berjilbab. Bahkan yang lebih
menyedihkan jilbab berubah menjadi jilboob.
Formalitas lain yang sangat marak di kalangan umat Islam
Indonesia adalah simbol “H” sebagai singkatan kata “Haji” yang menempel di
depan nama orang yang telah melakukan ibadah haji. Sebagaimana jilbab, periode
sebelum 1980-an tentu saja gelar haji begitu asing bagi pejabat pemerintah,
tetapi kini sebaliknya, menjadi aneh ada pejabat tak bergelar haji.
Ironisnya, maraknya umat yang bergelar haji seperti tak
berbekas pada perilaku penyandangnya. Sebagai rukun Islam kelima, ibadah haji
adalah ibadah peripurna di antara ibadah yang lain. Standar mabrur, dambaan
setiap orang yang menunaikan ibadah haji memiliki makna kebaikan yang tidak
saja secara vertikal kepada Allah, tetapi juga kesalihan sosial yang harus
mengejawantah dalam kehidupan kongkrit sehari-hari. Kesalihan yang seimbang
antara ritual dan sosial inilah yang terkandung dalam kata al-birr sebagai akar
kata mabrur sebagaimana ditampilkan dalam Qs Al-Baqarah [2]: 177. Bahkan ketika
Nabi Muhammad saw ditanya oleh sahabat apa makna mabrur, Nabi saw menjawab:
“memberi makan dan lembut dalam perkataan.” Jika makna ini dapat dikonkritkan
dalam kehidupan sehari-hari dalam diri setiap penyandang gelar haji, berapa
ratus ribu setiap tahun di negeri ini lahir orang-orang yang dermawan dan
orang-orang yang dalam setiap ucapannya tak pernah menyakiti orang lain.
Mestinya di negeri ini lahir ratusan ribu orang santun, baik dalam ucapan
maupun perbuatan lahir setiap tahunnya.
Politisi, pejabat, pengusaha, dan profesi elit lain tak
alergi lagi dengan simbol-simbol Islam. Ramadhan telah menjadi warna yang
sedemikian dominan di seluruh stasiun televisi. Hanya saja, Islam di negeri ini
masih tampil sebatas formalitas simbol, belum menyentuh substansi yang
menyentuh pada akhlak umat. Semarak simbol Islam yang muncul belum diimbangi
dengan tampilan akhlak yang memadai. Akhlak umat seperti tak beranjak dari
posisinya yang tetap berjalan di tempat untuk tidak mengatakan justru semakin
merosot. Oleh karena itu nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki seperti keadilan,
kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama masih jauh dari harapan.
Sebagai mayoritas bangsa ini, mestinya umat Islam Indonesia harus menjadi yang
terbaik di antara komponen bangsa yang ada sebagaimana difirmankan dalam Qs Ali
Imran [3]: 110. Semoga.•
***)Tafsir adalah sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Tengah dan Dosen
Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang.
Semoga
Manfaat, kami mengajak anda bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>> Layanan Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti Asuhan
Muhammadiyah Cabang Krembangan :
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493
08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
> SMS Center :
0822 3182 1721
( Bp Untung S ) - 0815 1518 3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet )

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !