![]() |
| Muslimah Panti Asuhan Muhammadiyah Nyai Walidah |
Hisablah dirimu sebelum
dihisab orang lain. Ajaran kebaikan tersebut sangat mendalam tentang pentingnya
setiap Muslim mengenal diri secara hakiki. Mungkin dapat ditambahkan, hisablah
diri sebelum menghisab orang lain. Kata pepatah, ketika telunjuk menuju ke
hidung orang, sesungguhnya jari tangan yang lain menunjuk diri sendiri.
Memahami diri sendiri memang
harus terus diupayakan. Lumrahnya, orang mudah sekali mengenal orang lain,
tetapi sering gagal mengenal diri sendiri. Mengenal identitas diri secara
jasmani, boleh jadi cukup dengan berdiri di depan cermin. Semua akan gamblang.
Namun, mendefinisikan diri secara ruhani, harus dilakukan dengan muhasabah
secara serius
.
Muhasabah alias introspeksi
berarti melakukan peninjauan atau koreksi terhadap kelemahan dan kesalahan diri
sendiri. Jangan sampai menyangka diri ini pintar, ternyata bodoh. Jangan sampai
mengira diri ini dermawan, ternyata kikir. Jangan sampai menduga diri ini
penyabar, ternyata pemarah. Jangan sampai merasa diri ini mulia, ternyata hina.
Setiap insan harus menyadari
bahwa tidak ada manusia sempurna. Sebab itu, tidak perlu merasa berat untuk
mengakui kesalahan, kendati menyandang nama besar dan menduduki posisi
ditokohkan. Coba singkirkan perasaan takut terlihat bodoh atau rendah. Toh
keengganan mengakui kesalahan sendiri adalah wujud kebodohan yang paling nyata.
Dengan demikian, diskusi atau
tukar pikiran itu harus. Setiap diri mengidap kelemahan, tetapi barangkali
dapat ditutup dengan kelebihan orang lain. Siapa saja yang enggan mendiskusikan
pemikirannya, dimungkinkan tersesat. Sementara Allah sendiri menyuruh Rasulullah,
manusia paling sempurna, untuk berdiskusi dengan sahabat. “Ajaklah mereka
bermusyawarah dalam urusan dunia. Kemudian apabila kamu telah membulatkan
tekad, maka pasrahkanlah dirimu kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang pasrah kepada-Nya.” (Qs Ali Imran [3]: 159).
Saatnya diri menghentikan
kebiasaan merasa paling benar sembari gemar menghakimi selain diri. Sepanjang
bernama manusia, pendapat sendiri tidak mutlak benar. Lebih baik terus belajar.
Kacaunya peradaban dunia ini disebabkan sikap orang yang tidak mau belajar,
tetapi selalu merasa paling pintar dan benar. Ini penting diingatkan. Sebab,
manusia memang gampang terjangkit virus sombong.
Termasuk menyikapi perbedaan
pendapat dalam urusan agama yang tidak prinsip. Lebih baik kedepankan sikap
toleran. Proses keberagamaan itu ibarat orang naik tangga. Kalau baru sampai di
pertengahan tangga, yang dilihat biasanya terbatas. Ya, sebatas gedung itu-itu
saja. Pengetahuan masih minimal, sehingga mudah kaget dan ribut. Tetapi, begitu
sampai di puncak ketinggian, pandangan menjadi luas. Dia telah melampaui
seluruh pemandangan di bawah dengan mata kepala sendiri. Hasilnya, hati dan pikiran
menjadi terbuka dan mudah memaklumi sesama.
Namun, virus sombong bisa
bertandang kepada siapa saja. Tidak ada manusia yang pasti selamat darinya.
Kalau ada orang mengaku bahwa dirinya pasti terbebas dari virus sombong, itu
sombong juga namanya. Apatah kita, Nabi Musa saja pernah terkena virus sombong.
Berikut sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Ubai bin
Ka’ab
.
Suatu hari, Nabi Musa berdiri di
khalayak Bani Israil. Nabi Musa lalu ditanya, “Wahai Musa, siapakah orang yang
paling berilmu?” Nabi Musa menjawab, “Aku!” Mereka bertanya lagi, “Adakah orang
yang lebih berilmu darimu?” Nabi Musa pun menjawab, “Tidak ada.”
Ketika itulah Allah kemudian
menegur Nabi Musa. “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di
pertemuan dua lautan, dan dia lebih berilmu daripada kamu,” firman Allah.
Segera Nabi Musa bertanya, “Ya Allah! Di manakah aku dapat menemuinya?” Allah
berfirman, “Bawalah bersamamu seekor ikan dalam keranjang. Sekiranya ikan itu
hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.”
Satu hal yang menarik dalam kisah
tersebut adalah Nabi Musa akhirnya belajar kepada Nabi Khidir tentang
kesabaran, dan gagal. Semoga setiap insan terutama muslim bersedia berendah
hati bahwa segala perasaan super hanya mengantarkan pada kehancuran. Marilah
budayakan muhasabah untuk terus-menerus melakukan koreksi diri daripada
mengoreksi kesalahan orang lain.•
____________________________
M Husnaini, Penulis Buku “Hidup Sepenuh Berkah”,
Warga Muhammadiyah Takerharjo Solokuro Lamongan
Semoga
Manfaat, kami mengajak anda bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>> Layanan Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti Asuhan
Muhammadiyah Cabang Krembangan :
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493
08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
> SMS Center :
0822 3182 1721
( Bp Untung S ) - 0815 1518 3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet )





Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !