Setiap kali melaksanakan shalat, kita selalu berdoa:
Menurut Muhammad Abduh dalam
Tafsir al-Manar, yang dimaksud “jalan yang lurus/benar” adalah beragama Islam,
menegakkan syariat Islam. Doa yang kita baca minimal 17x dalam shalat kita
setiap hari itu sesungguhnya merupakan doa pencerahan bagi perjalanan keberislaman
kita. Pertanyaannya, sampai sejauh mana kita telah berusaha menggapai petunjuk
(hidayah) Islam. sehingga keberislaman kita menjadi semakin lurus benar, dan
konsisten (istiqamah) dalam praksis kehidupan kita sehari-hari?
Filosof Muslim, Ibn Sina
(980-1037 M), pernah mengklasifikasikan keberislaman seseorang itu menjadi
tiga kategori. Pertama, keberislaman instruktif seperti
relasi budak/buruh-tuan (majikan). Kedua, keberislaman pragmatis-ekonomis
seperti relasi pedagang-konsumen. Ketiga, keberislaman atas dasar cinta dan
kasih sayang yang tulus seperti model relasi ibu-anak.
Jika ada orang yang masih selalu menunggu perintah dari orang lain baru mau
melaksanakan ajaran Islam, maka ia berarti baru berislam seperti etos kerja
buruh. Model berislam seperti ini cenderung pasif, tidak ada inisiatif, dan
kualitas keberagamaannya bergantung pada orang lain. Seperti layaknya buruh,
keberagamaan seseorang untuk tipe ini sangat ditentukan oleh tuannya,
sehingga ia sebenarnya tidak memiliki komitmen untuk menaati ajaran agamanya,
kalau tidak diperintahkan untuk beribadah oleh tuannya. Keberagamaan tipe
ini termasuk adh’af al-iman (paling lemah kualitas imannya).
Sementara itu, jika seseorang dalam
melaksanakan ajaran Islam cenderung “berkalkulasi” untung-rugi, maka ia
termasuk berislam tipe kedua. Tipe ini cenderung wait and see, melihat
konstelasi sosial politik, mempertimbangkan publisitas dan “pamrih” sosial.
Jika misalnya “bantuan/sumbangan” yang diberikan kepada kaum miskin itu diliput
media massa atau membuat popularitasnya meningkat, maka ia baru mau beramal.
Keberagamaan tipe ini sarat dengan muatan ujub, riya, dan sum’ah (pencitraan)
atau sifat dan perilaku yang potensial menjerumuskan diri dalam “syirik sosial
politik”, dan m menjadikan Islam hanya sebagai “kedok pencitraannya”
untuk ambisi personalnya dalam meraih “karir sosial politik” tertentu.
Sedangkan tipe berislam yang ketiga tampak pada seseorang yang menjalankan
ajaran Islam dengan dilandasi cinta, kasih sayang, keikhlasan, rela
berkorban, dan berani mengambil risiko. Keberislaman tipe ini
merupakan yang paling otentik, penuh komitmen, dan bertitik tolak dari
hati nurani. Layaknya seorang ibu yang bersusah payah mengandung janinnya
selama sembilan bulan sepuluh hari, melahirkan dengan taruhan nyawa,
menyusui, merawat, membesarkan, mendidik, dan sebagainya, ia tidak pernah
mengharapkan suatu balasan apa pun dari anaknya. Semua itu dilakukan atas dasar
cinta, kasih sayang, dan ketulusan hati. Berislam tipe ini, menurut Ibn Sina, merupakan
yang paling baik dan paling bermakna atau membuahkan amal shalih dan akhlak
mulia, tidak diliputi ujub, riya, dan sum’ah, sebaliknya disemangati oleh etos
fastabiqul khairati (berkompetisi dalam berbuat kebaikan).
Jika cinta dan kasih sayang ibu
adalah segala-galanya bagi buah hatinya, maka beragama yang dilandasi kasih
sayang: cinta, ketulusan, otentisitas, dan rela berkorban di jalan-Nya
merupakan sikap dan perilaku keberislaman yang mengantarkan kepada “jalan yang
lurus/benar” tersebut. Karena boleh jadi keberislaman sebagian kita selama ini
masih penuh dengan kepalsuan, pamrih, keterpaksaan, dan ketidakmenyatuan antara
kata dan amal nyata, antara suara hati nurani dan perilaku sehari-hari.
Relasi ibu-anak yang penuh kasih sayang seharusnya menyadarkan kita semua bahwa
jika Allah SwT telah menjadikan Islam sebagai agama kasih sayang
bagi semesta raya (termasuk manusia) melalui Rasul-Nya, (Qs.
Al-Anbiya’ [21]: 107) dan memberikan segala fasilitas hidup di muka bumi ini
dengan penuh kasih sayang, maka hidup kita akan semakin bermakna dan berbahagia
jika selalu berkomitmen untuk mematuhi ajaran-Nya dengan penuh kasih sayang.
Jadi, kita perlu berislam dengan cinta yang penuh kesadaran, ketaatan,
keikhlasan, kesungguhan, dan rela berkorban.
Keberislaman kategori ketiga itu
juga dapat mengantarkan Muslim memperoleh kasih sayang dan ampunan Allah SwT.
Karena keberislaman semacam ini dapat menumbuhkan rasa cinta yang tulus.•
Semoga Manfaat, kami mengajak anda
bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>> Layanan Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti
Asuhan Muhammadiyah Cabang Krembangan :
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493
08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
>
SMS Center :
0815 1518 3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet ) – 0822 4526
5090 ( Bp. Tulus )




Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !