| Kegiatan Silaturrahim Donatur Panti Asuhan |
Tentu ini ada sesuatu yang salah. Kesalahan ini dapat berasal dari internal
umat Islam tetapi juga dapat berasal dari eksternal. Internal dapat berasal
dari orang perorang atau pribadi umat Islam tetapi juga dapat berasal dari
organisasi umat Islam. Sedangkan eksternal dapat saja karena kebijakan ekonomi
pemerintah yang tidak pro rakyat, dalam hal ini umat Islam yang mayoritas
adalah rakyat.
Kesalahan ini perlu kita cari. Bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk
mencari solusi atau pemecahannya. Sehingga umat Islam dapat menjadi tuan rumah
di negeri sendiri, tidak menjadi lahan ekonomi orang atau kelompok lain. Tidak
hanya menjadi penonton, apalagi menjadi “budak” orang lain.
Internal Umat Islam
Pada dasarnya sumber daya manusia (SDM) umumnya umat Islam lemah, sehingga
kalah bersaing dengan kelompok lain. Selain kalah ulet, umat Islam juga kurang
disiplin. Sehingga mudah menyerah dan kurang gigih dalam memperjuangkan
kepentingan ekonominya. Apalagi ditambah rasa cepat puas, sehingga jika
usahanya sudah dapat mencukupi diri sendiri, itu sudah cukup dan tak perlu
terobosan lagi.
Karenanya, diperlukan perubahan cara pandang umat terhadap bidang ekonomi ini.
Sikap- sikap di atas barangkali karena menganggap dunia itu tidak penting, yang
penting adalah akhirat. Sehingga usaha ekonomi yang dijalaninya sekadar cukup
saja untuk menjalani kehidupan sendiri dan menekuni ibadahnya. Padahal
dua-duanya penting, dunia penting dan akhirat juga penting. Tinggal bagaimana
menjaga keseimbangan antara keduanya.
Perubahan cara pandang ini penting. Sehingga umat Islam akan gigih menjalani
usahanya. Tidak cukup untuk dirinya tetapi juga untuk umat. Semakin besar usaha
kita, akan lebih besar pula manfaatnya bagi umat. Karenanya jika dikaitkan
dengan kehidupan dunia, semakin usaha kita besar maka akan semakin kaya dan
akan lebih banyak lagi kesempatan kita untuk mengamalkan harta kita untuk
kehidupan akhirat.
Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi juga akan sangat memengaruhi kondisi
rakyat, dalam hal ini umat Islam sebagai mayoritas. Jika kebijakan yang
dilakukan pemerintah tidak pro rakyat, maka yang akan dirugikan juga umat
Islam. Karenanya, perlu didorong kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi ini
yang pro rakyat, ekonomi kerakyatan.
Sayangnya kebijakan ekonomi yang pro rakyat ini tidak pernah terjadi secara
total. Janji-janji kampanye hanyalah janji semata, Penerapannya di lapangan,
jauh panggang dari api. Sehingga kondisi ekonomi rakyat secara mayoritas tidak
membaik dan pihak yang minoritas dan memiliki modal semakin menggurita.
Kebijakan pemerintah yang lalu yang cenderung liberal dalam bidang ekonomi
membuat mayoritas rakyat semakin terpinggirkan. Dengan modalnya yang besar,
kelompok ini mampu menggeser penduduk pribumi ke pinggiran. Ini sudah menjadi
kenyataan, lahan-lahan di kota-kota besar dan di pinggir jalan sudah banyak
dikuasai orang-orang bermodal besar ini yang umumnya dari kelompok minoritas.
Umat yang mayoritas tidak mampu bertahan karena kondisi ekonominya, sedang yang
mampu bertahan akan terjepit di antara pemodal-pemodal tersebut.
Kebijakan pemerintah saat ini pun belum terlihat yang pro rakyat. Jika kondisi
ini tidak berubah, maka dipastikan korban-korban dari pihak umat akan semakin
besar. Dan ini tentu kondisi ekonomi umat Islam akan semakin memprihatinkan.
Karenanya, diperlukan usaha-usaha yang serius untuk melepaskan kondisi umat
dari keterpurukan ini.
Tumpuan ke Muhammadiyah dan NU
Melihat kondisi umat yang memprihatinkan di bidang ekonomi ini, sebagai
organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU, hendaknya tidak
tinggal diam. Umat membutuhkan tuntunan tidak hanya untuk kehidupan akhirat
yang lebih baik tetapi juga kehidupan dunia yang lebih baik. Ini perlu langkah
bersama yang serasi, baik kerjasama maupun sendiri-sendiri.
Ini tentu mampu dilakukan oleh dua organisasi besar ini, terutama oleh
Muhammadiyah. Ini sudah dibuktikan, langkah-langkah Muhammadiyah mampu
menghasilkan perguruan-perguruan tinggi yang hebat dan rumah sakit-rumah sakit
yang megah. Tentu tidak akan menemukan kesulitan, jika langkah-langkah serupa
juga dilakukan untuk membangkitkan ekonomi umat. Sehingga umat tidak di
pinggiran lagi. Tetapi mampu mewarnai perkembangan ekonomi Indonesia yang pro
rakyat, pro umat.
Muhammadiyah tidak perlu melahirkan perusahaan-perusahaan besar, tetapi cukup
melahirkan enterprener-enterprener dari kaderisasi dan perguruan-perguruan
tinggi yang hebat. Mereka nanti yang akan melahirkan perusahaan-perusahaan yang
besar. Muhammadiyah cukup memfasilitasi sendiri atau bekerja sama dengan pihak
lain. Ini biasa dilakukan, karena Muhammadiyah sangat dipercaya,
Sebagai kader didikan Muhammadiyah, tentu jika telah besar tidak akan melupakan
Muhammadiyah. Karenanya, langkah-langkah melahirkan pengusaha jika serius
dilakukan Muhammadiyah tidaklah merugikan. Langkah ini malah akan menguntungkan
Muhammadiyah. Karena jika sudah berhasil kembalinya kepada Muhammadiyah juga.
Karena jika sudah besar akan lebih membesarkan lagi Muhammadiyah.
Langkah-langkah serupa juga dapat dilakukan oleh organisasi Islam lainnya yang
lebih kecil. Jika langkah ini dilakukan secara serentak tentu hasilnya akan
lebih baik pula. Yang penting sekarang bagaimana mengeksekusi (melaksanakan)
program-program yang mampu membangkitkan ekonomi umat. Tentu tidak hanya
ngomong saja tetapi perlu langkah nyata.
Berani Mencoba
Banyak orang heran mengapa kelompok lain kini menguasai ekonomi. Tidak lain
karena orang lain berani berjuang dan terus berjuang dan akhirnya memperoleh
kesuksesan. Karenanya, umat Islam jangan punya nyali kecil. Tetapi kita harus
berani mencoba. Jangan malu dari usaha yang kecil. Langkah ini merupakan
peletakan pondasi untuk usaha kita selanjutnya yng lebih baik.
Anehnya tidak sedikit di antara kita takut pada kegagalan. Perasaan takut
inilah yang biasanya menghalangi menjadi sukses. Banyak di antara kita yang
sebenarnya mempunyai bakat menjadi wirausahawan, tetapi kenyataannya bakat itu
dibiarkan mubadzir hanya karena keberanian mencoba.
Karenanya, untuk melahirkan wirausahawan atau entrepreneur ini harus ada yang
berani mengeksekusi, baik perorangan maupun organisasi Islam. Berani mencoba
itu lebih baik. Bagaimana akan berhasil, mencoba saja belum.•
__________________
Dr (Hc) Rahmad Ali, Owner dan Direktur Danagung Group.
Semoga Manfaat, kami
mengajak anda bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>> Layanan
Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Krembangan :
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493
08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
> SMS Center :
0822 3182 1721 ( Bp Untung S ) - 0815 1518
3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet )
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !