![]() |
| Silaturrahim Donatur Panti Asuhan |
Tentu hal ini sangat menyesatkan.
Islam, sama sekali tidak mengajarkan kejahatan. Tidak ada satu pun ajaran Islam
yang menyarankan untuk melakukan tindak dehumanistik. Kendati demikian, orang
Islamlah yang mampu melakukan itu semua. Tentu saja dengan berbagai motif yang
mengiringinya.
Masih belum lama ini, penembakan brutal yang terjadi di Paris, Prancis,
mengatasnamakan Islam. Di tanah ibu pertiwi ini pun, atas pengeboman yang
terjadi di Jl. Thamrin, Jakarta, juga mengatasnamakan Islam. Jaringan teroris
“Santoso” yang mulai menyebar di seantero Jawa, juga mengatasnamakan Islam.
Pada saat di dunia Barat Islam mulai dihakimi oleh masyarakat yang antipati, di
negara kita, segelintir oknum tidak bertanggungjawab mengobarkan kebencian,
kerusakan dan kebengisan, atas nama Islam. Dalam konteks ini, posisi anti-Islam
dan pro-Islam, sama-sama berdiri di atas pijakan ekstremitas yang memuakkan.
Sementara itu, kampanye Islam damai untuk merehabilitasi nama baik agama
tersebut, malah dihujat sana-sini oleh kaum Islamis, dan kelompok lainnya yang
tidak sependapat. Tatkala Nahdlatul ‘Ulama’ mempromosikan Islam Nusantara,
banyak kaum Muslim yang berseberangan haluan pemikiran, mengecamnya. Di saat
yang sama, Muhammadiyah yang berkampanye mengenai pentingnya Islam Berkemajuan,
justru dicaci-maki dan dianggap Islamnya tidak otentik.
Sebenarnya telah nyata, bahwa ada agenda di balik segala pengambinghitaman
Islam. Islam diposisikan sebagai hal yang berdiri secara diametral bertentangan
dengan kepentingan Eropa dan Amerika Serikat. Tidak sedikit pula yang menyebut
bahwa, Islam adalah antitesis dari ideologi pasar berbagai korporasi
internasional yang menguasai bumi ini.
Jauh sebelum Samuel Huntington menerbitkan teori Clash of Civilization (1996),
Roger Garaudy menerbitkan Les Promesses de l’islam (1983). Buku itu mengungkap
seluruh kekejian bangsa Barat yang memojokkan Islam. Motif dan kepentingan
keserakahan akan kapital, menjadi basis utama hasrat pembunuhan yang luar
biasa. Pengakuan mantan bandit kapitalis Amerika, John Perkins dalam
Confessions of Economic Hitman (2004) menyebut bahwa, tujuan invasi militer
Amerika Serikat ke Timur Tengah, dilatarbelakangi oleh motif akumulasi profit
dari penjualan senjata. Sungguh mengerikan.
Apakah Amerika dan Eropa tidak cukup kaya dan sejahtera, sehingga harus
mengedepankan operasi pembasmian kemanusiaan yang keji di Timur Tengah, Afrika
dan Asia? Ternyata bukan untuk penyejahteraan rakyat jawabannya. Tetapi, untuk
memberikan akses eksploitasi kehidupan sebanyak-banyaknya bagi perusahaan yang
menghamba kepada ekonomisme.
Oleh karena itulah, maka Islam dipaksa menjadi keseluruhan representasi dari
Timur, khususnya Timur Tengah. Padahal di Timur, jelas ada banyak bangsa dan
peradaban, yang tidak semuanya Islam atau Muslim. Yang menarik, seluruh
kelompok yang sentimentil terhadap Barat, termasuk di antaranya adalah Islam
garis keras, ternyata juga mendapatkan dukungan rahasia dari berbagai
perusahaan multinasional melalui operasi inteligensia.
Menurut Robert Dreyfuss, dalam karya akademik yang bertajuk Devil’s Game: How
the United States Helped Unleash Fundamentalist Islam (2007), disebutkan bahwa
ekstremisme Islam yang mengarah kepada aksi teror, ternyata memang sengaja
diciptakan. Penyelewengan tafsir akan Islam, bukanlah masalah ideologi. Namun,
salah satu instrumen untuk mempropagandakan kekerasan, kekejaman, kebencian dan
segala tindak laku anti kemanusiaan.
Kasus popularnya peristiwa Arab Spring, bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Menurut intelektual Tariq Ramadan, dalam bukunya The Arab Awakening: Islam and
the New Middle East (2012), sangat mustahil kiranya, sebegitu polos dan
tribalnya masyarakat Islam di Timur Tengah, sehingga menghendaki kericuhan
politik yang dahsyat dan krisis kemanusiaan yang sangat besar. Dengan dalih
demokratisasi, negara-negara Arab bersepakat untuk merayakan kehancuran.
Sungguh merupakan hal yang mustahil.
Pola yang sama juga terjadi melalui modus operandi yang berbeda di Asia
Tenggara, termasuk Indonesia. Konflik demi konflik dan teror atas nama agama
merebak di mana-mana. Ternyata, merujuk kepada pidato Les Levidow, seorang
sarjana dan aktivis kemanusiaan dari The Open University Inggris, yang bertajuk
Terrorising Dissent: The Neoliberal ‘Anti-Terrorist’ Strategy (2002), hal itu
juga merupakan proyek garapan operasi inteligensia yang diperbudak oleh
perusahaan asing yang bengis.
Keterkaitan langsung dalam berbagai persoalan yang ada ini, memang sangatlah
kompleks. Tetapi yang jelas, modal ekonomi telah memainkan peran penting dalam
menciptakan cheos di seluruh pelosok negeri. Bukan hanya itu, ideologi
keagamaan diarahkan sebagai alibi yang melegitimasi seluruh tindak kejahatan
sistem dan struktur ekonomi tersebut. Jika kita tetap membenarkan ekstremisme
Islam, jelaslah bahwa ini merupakan sarapan gratis bagi mereka kaum kapitalis.
Terdapat beberapa langkah yang bisa diupayakan oleh setiap Muslim, yakni: Pertama, setiap Muslim dan berbagai organisasi Islam harus
meyakini dan mengkampanyekan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, memihak
kemanusiaan dan pro keadilan sosial. Dengan demikian, tafsir, ideologi dan
wacana yang bertolak belakang dengan itu semua, harus dibongkar perwujudannya,
sehingga tampak di mana letak kekeliruannya.
Kedua, di negeri ini, baik NU maupun Muhammadiyah, berkomitmen
secara tulus untuk memperjuangkan nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, baik
melalui jalan terminologis Islam Nusantara maupun Islam Berkemajuan. Kedua
kredo luhur tersebut, sebisa mungkin dihindarkan dari segala jenis perilaku
kerdil, ashabiyyah, nativisme dan obskurantisme. Dengan kata lain, konsep-konsep
tersebut tidak boleh dijadikan sebagai bahan politisasi, komodifikasi, terlebih
kapitalisasi untuk kepentingan remeh-temeh yang murahan.
Ketiga, berbagai pihak di negeri ini, khususnya pemerintah dan
badan pemerintahan seperti Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia dan Badan
Intelijen Negara, harus berani mengungkap segala proses tipu muslihat proyek
kapitalis yang merugikan Islam. Pembongkaran kejahatan sistemik tersebut, harus
benar-benar diungkap secara jujur dan gamblang di hadapan publik.
Demikianlah, sedikit ikhtiar intelektual mengenai pentingnya mengakhiri pengambinghitaman
Islam sebagai biang kerok krisis kemanusiaan di bumi pertiwi ini. Sebagai
Muslim yang baik, kita harus berani tampil ke depan dan berbicara lantang
bahwa, agama kita adalah agama yang suci, yang tidak boleh terkotori oleh niat
dan perilaku jahat sistem kapitalisme. Ingatlah bahwa, Al-Qur’an mengajarkan,
“…kapital itu hendaknya tidak didominasi, dihegemoni dan dikuasai oleh kaum
kapitalis belaka” (kayla yakuna dullatan baina al-aghniya’i minkum).•
______________________
Hasnan Bachtiar, Peneliti di Pusat Studi Islam dan Filsafat
(PSIF), Universitas Muhammadiyah Malang.
Semoga Manfaat, kami
mengajak anda bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>> Layanan
Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Krembangan :
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493
08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
> SMS Center :
0822 3182 1721 ( Bp Untung S ) - 0815 1518
3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet )



Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !