| Bantuan Perlengkapan Sekolah untuk Yatim, Piatu & Dhuafa |
Rita Pranawati, SS MA
Meninjau dari penyebab
terjadinya penyimpangan seksual,
terdapat beberapa faktor pendukung yang mampu mendorong seseorang ataupun anak
mengidap penyimpangan tersebut. Rita Pranawati, SS MA, Sekretaris Komisi
Perlindungan Anak Indonesia mengatakan bahwa dari beberapa kasus yang
ditemukannya, penyebab anak di kemudian hari mengalami penyimpangan seksual itu
sangat beragam. Sebagai contoh, berdasarkan kasus yang ditemukannya, penyimpangan
itu disebabkan karena :
1. Riwayat anak menjadi korban kekerasan seksual.
“Akibatnya
anak korban kekerasan seksual ini mengidentifikasi dirinya sebagai double
gender. Kadang berperan perempuan kadang juga berperan laki-laki tergantung
kondisi dan situasi,” Rita memaparkan.
Hal ini
tidak bisa diidentifikasi dengan perilaku yang muncul ketika si anak bermain
dan bergaul dengan teman dan keluarganya, karena kebanyakan prilaku yang
ditunjukkan pada saat iitu akan mengikuti jenis kelamin bawaannya. Akan tetapi
berbeda jika hasrat seksualnya muncul, prilakunya akan berubah menjadi
sebaliknya.
“Biasanya
anak atau orang dewasa korban kekerasan seksual, lebih berpotensi berperilaku
seksual menyimpang. Ini disebabkan oleh perasaan dendam bukan karena hasrat seksualnya.
Sebagian ada karena keinginan hasrat seksualnya, namun lebih sedikit dibanding
motif dendam,” lanjut Rita.
2. Kesalahan pengasuhan oleh orang tua, Rita pun menyebutkan bahwa faktor kemungkinan kedua
adalah kesalahan pengasuhan oleh orang tua. Seperti contoh yang mungkin
beberapa dari kita familiar dengan kasus ini, bahwa seorang bapak atau ibu yang
menginginkan anak perempuan namun yang terjadi sebaliknya. Karena adanya
keinginan kuat tersebut, menyebabkan orang tua tadi memperlakukan anaknya
laki-lakinya sebagaimana perempuan. Ia membelikan boneka untuk anaknya bahkan
mengajarkan anaknya kencing sebagaimana anak perempuan.
“Akibat
adanya pembiasaan itu, anak tersebut hingga usia remaja contohnya akan lebih
nyaman masuk toilet perempuan dari pada toilet laki-laki,” ujarnya.
Dalam hal
ini, Rita menekankan bahwa kesalahan ada di tindakan asuh orang tua atau orang
tua itu sendiri. Bukan karena anak yang memiliki pilihan untuk berperilaku
seksual menyimpang, namun karena adanya stimulus yang menjadikan anak cenderung
memiliki perilaku seksual menyimpang.
3. Lingkungan dan gaya hidup mampu menjadi pemicunya Selain akibat kekerasan seksual dan faktor asuhan
keluarga, Rita pun menambahkan bahwa lingkungan dan gaya hidup mampu menjadi
pemicunya.
“Jangan
dikira penyimpangan itu didapatkan di lingkungan dan pergaulan yang tidak baik
dan cenderung bebas. Terkadang di lingkungan yang kita anggap baik pun
pengaruhnya bisa masuk. Seperti lingkungan sekolah dan pondok pesantren,”
tambahnya.
Bahkan,
Rita sendiri mengakui bahwa ada di antara anak sekolah sekolah usia remaja SMP
dan SMA bahkan mahasiswa, yang melakukan perilaku seksual menyimpang itu
lantaran takut menghamili anak orang ataupun takut hamil.
“Hal
tersebut mereka lakukan akibat terlalu sering mereka mengakses sesuatu yang
berbau porno. Mereka ingin melampiaskan hasrat seksualnya, tapi mereka juga
tidak ingin kena resiko hamil maupun menghamili anak orang. Maka perilaku
seksual sesama jenislah yang mereka lakukan,” papar Rita kembali.
Untuk
itu, betapa pentingnya perlindungan yang dilakukan orang tua kepada anak dalam
menangkal pengaruh-pengaruh seperti ini. Orang tua kerap kali melakukan pola
komunikasi yang kurang pas terutama terhadap fase perkembangan anak. Baik anak
saat dalam kandungan, bayi, balita, anak-anak, remaja, hingga dewasa. Tidak
sedikit orang tua yang menerapkan pola komunikasi terhadap anak yang cenderung
kaku dan mengekang. Akibatnya anak merasa canggung ketika ingin mengatakan
sesuatau terhadap orang tuanya.
“Untuk
itu, pola komunikasi orang tua dan anak adalah kunci utama dalam menjalankan
proses membesarkan, mendidik, dan mengasuh anak,” tandas Rita. (gsh-ed Thari)
Semoga
Manfaat, kami mengajak anda bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>> Layanan
Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Krembangan :
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493
08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
> SMS Center :
0822 3182 1721
( Bp Untung S ) - 0815 1518 3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet )
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !