![]() |
| Jalan Sehat Milad Panti Asuhan |
Dalam berkehidupan setiap
orang membutuhkan kehadiran orang lain yang dapat memberi nasihat dan
mengingatkan agar tetap istiqamah pada jalan yang benar dan terhindari dari
jalan yang salah. Kehadiran orang lain juga sangat diperlukan untuk menjadi
pengingat apakah tata laku dan tutur kata seseorang mengandung kebaikan atau
sebaliknya justru mengumbar keburukan. Namun, hampir setiap orang juga
menyadari pada waktu tertentu bahwa dirinya sendirilah yang harus menentukan
nilai perbuatannya.
Terkadang orang diharuskan
menentukan sendiri apakah perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk,
bermanfaat atau sia-sia. Diri sendiri dituntut menjadi hakim yang memutuskan
apakah sebuah gagasan, rencana, dan program dilakukan atau ditinggalkan setelah
mempertimbangkan berbagai hal. Tidak selamanya perbuatan dan perkataan
seseorang dinilai benar atau salah diukur dengan kebiasaan yang berlaku di
masyarakat atau menunggu nasihat dari orang lain, baik itu orangtua, guru,
ataupun sahabat karibnya.
Dalam satu riwayat disebutkan
bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Hai Wabishah, bertanyalah kepada hati nuranimu
sendiri, kebaikan adalah sesuatu yang jika kamu lakukan jiwamu merasa tenang,
hati nuranimu pun merasa tentram. Sedangkan keburukan adalah sesuatu yang
jika kamu lakukan jiwamu bergejolak dan hati nuranimu berdebar-debar, meskipun
orang banyak memberi tahu kepadamu (lain dari yang kau rasakan).” (HR Ahmad).
Hati nurani manusia yang bersih
dapat dijadikan sebagai sumber penilai perbuatan manusia. Sesuai dengan
fitrahnya yang cenderung kepada kebenaran dan kebaikan, manusia dikaruniai hati
nurani yang dapat membedakan antara hal yang baik dan yang buruk. Karena itu,
setiap orang yang akan melakukan perbuatan pada dasarnya telah disensor oleh
nuraninya sendiri. Sensor itu kemudian menginformasikan apakah perbuatan yang
akan dilakukan tersebut baik atau buruk dan benar atau salah.
Ada sebagian orang yang sering
melawan suara hati nuraninya sendiri atas pertimbangan berbagai kondisi. Orang
semacam ini lebih banyak dikuasai oleh nafsu buruk sehingga cenderung melawan
nasihat baik dan benar dari hati nuraninya. Dorongan-dorongan lahiriyah
seringkali mengalahkan kehendak terdalam dirinya. Bisa juga kondisi lingkungan
yang mengarahkan sehingga seseorang melakukan hal-hal yang sebenarnya
bertentangan dengan keinginannya.
Raja Ali Haji, dalam karyanya
yang termasyhur Gurindam Dua Belas, pada pasal keempat bertutur: ”Hati itu
kerajaan di dalam tubuh, jikalau zalim segala anggota pun rubuh.” Hati yang
zalim adalah hati yang tertutup oleh nafsu kemaksiatan.
Sementara, ada juga sebagian
orang yang sangat taat dan patuh dengan suara nuraninya sendiri sehingga
perbuatannya terkendali dan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang berada di luar
dirinya. Nasihat dan dukungan orang lain hanya sebagai penguat saja. Sikap dan
perilaku yang muncul adalah disiplin, amanah, dan jujur dalam setiap pekerjaan
dan tugas-tugas menjadi bagian dari sikap hidupnya sehari-hari.
Dalam dunia pendidikan, hampir
setiap tahun muncul persoalan dilema kejujuran. Bahkan pernah ada kasus seorang
murid menolak untuk berbuat tidak jujur atas perintah gurunya, menolak
menyontek, bahkan melaporkan gurunya kepada yang berwajib. Tentu saja ketika
seorang guru menyuruh muridnya berlaku tidak jujur bukan karena sang guru tidak
tahu perbuatan itu salah atau keliru dalam mendidik. Namun ada alasan lain,
bahwa perbuatan terpaksa dilakukan atas dorongan dari luar nuraninya, yaitu
meluluskan semua murid dan menyelamatkan nama baik sekolah. Tekanan dan
dorongan-dorongan dari luar begitu kuat berpengaruh sehingga mengorbankan
hakikat seluruh proses pendidikan itu sendiri.
Mendengarkan dan mengikuti suara
hati nurani sebagai lentera hidup tidaklah mudah betapapun potensi itu ada
dalam diri manusia atas kemurahan Sang Khalik. Hati nurani bisa saja tertutup
oleh kebiasaan-kebiasaan nafsiah yang bertentangan dengannya. Karena itu setiap
manusia tetap dituntut untuk mengasah dan membersihkannya dari kotoran yang
dapat menghambat getarannya, dengan cara mengontrol kata dan laku agar senantiasa
dalam jangkaun radar Al-Qur’an dan Sunnah.•
__________________
Mutohharun Jinan, pengasuh Pondok Shabran dosen Fakultas
Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Semoga
Manfaat, kami mengajak anda bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>> Layanan Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti Asuhan
Muhammadiyah Cabang Krembangan :
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493
08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
> SMS Center :
0822 3182 1721
( Bp Untung S ) - 0815 1518 3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet )






Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !