Oleh:
Oman Fathurohman SW
Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
| Sholat Gerhana Matahari di Masjid At-Taqwa Dupak Bangunsari |
Assalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Marilah
bersama-sama kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah
menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya, menciptakan alam semesta
dalam keserasian dan keseimbangan. Mari kita perbarui kesaksian kita
masing-masing bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad saw adalah
utusan Allah yang risalahnya membawa dan menjanjikan kebahagiaan bagi kita
semua, dunia dan hari kemudian. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah
kepada beliau Nabi Muhammad saw, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya,
dan kepada setiap orang yang mengikuti risalahnya.
Saudara-saudara sekalian, pada pagi hari ini Rabu 29
Jumadilawal 1437 H bertepatan dengan tanggal 9 Maret 2016 M kita semua tengah
mengalami dan menyaksikan sebuah peristiwa alam yang sangat menakjubkan, yang
mungkin menimbulkan rasa berdebar-debar dan bergetar dalam hati kita
masing-masing. Peristiwa yang sedang kita alami dan saksikan ini merupakan
peristiwa alam yang jarang terjadi, bahkan tidak setiap orang diberi kesempatan
menyaksikannya. Matahari yang biasanya bersinar terang di siang hari tertutup
oleh bulan sehingga sinarnya tidak sampai ke lingkungan kita dan menimbulkan
keadaan gelap seperti malam hari. Meskipun keadaan gelap ini hanya berlangsung
sebentar saja, kurang lebih hanya 5 menit saja, namun sudah cukup dapat
menimbulkan keterkejutan-keterkejutan bagi setiap makhluk yang mengalaminya.
Binatang-binatang yang biasanya tidur di malam hari terkejut dan mengikuti
nalurinya menyangka hari sudah mulai malam sehingga bergegas-gegas pulang ke
kandang. Sebaliknya, binatang-binatang yang terbang malam untuk mencari makan
semuanya mulai beterbangan untuk mencari makan. Demikian pula halnya dengan
tumbuh-tumbuhan, semuanya melakukan kebiasaan-kebiasaan sesuai dengan keadaan gelap
seperti ini. Kita pun makhluk yang dikaruniai akal oleh Allah swt melakukan
berbagai macam perbuatan untuk mengatasi kegelapan akibat matahari tertutup
bulan seperti sekarang ini.
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah. Peristiwa seperti inilah yang dikenal dengan
istilah gerhana. Gerhana yang kita alami sekarang ini adalah gerhana matahari
total karena seluruh bagian piringan matahari tertutup oleh piringan bulan.
Akibatnya, ada wilayah permukaan bumi yang betul-betul gelap karena
bayang-bayang inti bulan yang gelap menutupi wilayah permukaan bumi tersebut.
Di bagian wilayah permukaan bumi ini terjadi apa yang kita sebut dengan gerhana
matahari total. Sementara itu, pada bagian permukaan bumi lainnya tidak
mengalami keadaan demikian melainkan hanya remang-remang. Di bagian wilayah
permukaan bumi ini terjadi apa yang kita sebut dengan gerhana matahari
sebagian.
Di benak kita muncul pertanyaan. Apa sesungguhnya yang
terjadi di balik peristiwa alam yang menakjubkan ini? Apakah peristiwa ini
hanya sekali saja terjadi di atas dunia ini atau justru terjadi berulang kali?
Hikmah-hikmah apa saja yang dapat kita petik dari peristiwa ini?
Dahulu kala banyak orang telah keliru dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada yang menyangka bahwa gerhana terjadi karena
matahari atau bulan ditelan oleh raksasa. Karena itu mereka memukul-mukul
kentongan, lesung, dan benda lain yang menimbulkan bunyi nyaring, untuk
menimbulkan bunyi-bunyi yang gaduh dengan tujuan agar raksasa yang menelannya
menjadi takut dan mau memuntahkan matahari atau bulan yang telah ditelannya.
Kaum muslimin pada masa Rasulullah saw masih hidup, juga pernah mempunyai
anggapan yang keliru tentang gerhana matahari yang terjadi waktu itu. Atas
kehendak Allah swt, gerhana matahari yang terjadi pada hari Senin 29 Syawal 10
H bertepatan dengan tanggal 27 Januari 632 M itu bersamaan dengan wafatnya
Ibrahim putra Rasulullah saw. Oleh sebab itu, ada sebagian sahabat yang
menyangka bahwa gerhana matahari yang terjadi saat itu terjadi akibat wafatnya
Ibrahim. Peristiwa gerhana matahari di masa Rasulullah saw ini diberitakan
dalam banyak riwayat hadis, salah satunya hadis yang diriwayatkan dari
al-Mugirah bin Syu’bah:
Artinya: Terjadi gerhana matahari di
masa Rasulullah saw pada hari meninggalnya Ibrahim. Beberapa orang berkata:
gerhana matahari itu terjadi karena kematian Ibrahim. Maka Rasulullah saw
bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena mati dan
hidupnya seseorang. Jika kamu mengetahui (gerhana itu), maka tunaikanlah salat
dan berdoalah kepada Allah. (riwayat al-Bukhari).
Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Seperti telah kami
bacakan di awal khutbah ini, malam dan siang adalah dua di antara sekian banyak
tanda-tanda kekuasaan Allah swt yang bertebaran di alam semesta ini. Untuk
lebih memahami, marilah kita perhatikan bunyi ayat tersebut sekali lagi dan
sekaligus terjemahnya dalam bahasa Indonesia.
Artinya: Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah
malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka
berada dalam kegelapan (37) dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan
Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (38) Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah,
sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai
bentuk tandan yang tua (39) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun
tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (40). ( Al-Qur’an
Surat 36, ayat 37 – 40 ).
Dengan
demikian, siang dan malam, matahari dan bulan, adalah ciptaan-ciptaan Allah.
Semuanya diciptakan menurut aturan-aturan tertentu yang oleh para ahli ilmu
alam disebut dengan hukum alam, atau yang kita namakan dengan istilah sunnatullah.
Semuanya berada di bawah kekuasaan dan pemeliharaan Allah dan tidak ada
seorangpun yang mampu mengubah atau mengganti sunnatullah tersebut. Mari kita
simak firman Allah swt berikut:
Artinya:
Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak
dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan peubahan bagi sunnatullah itu. ( Al-Qur’an Surat 48 ayat
23 )
Gerhana
matahari atau gerhana bulan adalah bukti adanya sunnatullah. Sunnatullahadalah
hukum Allah swt yang telah ditetapkanNya. Menghadapi hukum Allah swt ini
manusia tidak berdaya sama sekali untuk mengubahnya apalagi menentangnya.
Menyadari ketidakberdayaan dan kelemahan kita di hadapan kekuasaan Allah swt
inilah yang merupakan pangkal keselamatan dan kebahagiaan hidup kita karena
akan mendorong kita untuk berpasrah diri pada bimbingan dan petunjuk Allah swt.
Allah maha agung, maha kuasa, dan maha perkasa. Namun demikian, Dia jualah yang
maha bijaksana, maha kasih, maha cinta, dan maha sayang kepada setiap
makhlukNya yang berpasrah diri kepadaNya. Satu-satunya cara pasrah diri kepada
Allah swt adalah dengan mengikuti dan mengamalkan petunjuk agama yang diridaiNya,
yaitu Islam. Dengan istilah yang lebih populer, adalah takwa; dan takwa inilah
yang merupakan sebaik-baik perbekalan kita dalam mengarungi kehidupan yang
silih berganti antara pasang dan surut, naik dan turun. Firman Allah swt:
Artinya: … Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan
bertakwalah kepadaKu wahai orang-orang yang berakal. ( Al-Qur’an Surat 2 : 197
)
Sebagai
suatu peristiwa alam yang cukup menakjubkan dan mengejutkan, gerhana matahari
telah terjadi berulangkali. Bahkan siklus atau kapan waktu terjadinya sudah
dapat diprediksi, dihitung, jauh hari sebelumnya dengan menggunakan ilmu falak
atau astronomi. Para ahli juga telah menghitung jauh-jauh hari sebelumnya untuk
peristiwa gerhana matahari yang hari ini terjadi. Peristiwa gerhana yang telah
terjadi berulang kali ini, dan yang akan terjadi pula di kemudian hari adalah
merupakan bukti rahman dan rahimnya Allah swt kepada kita.
Melalui peristiwa-peristiwa semacam ini, Allah
memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kekuasaanNya kepada kita, agar kita
masing-masing menjadi ingat dan sadar terhadap “kemanusiaan” kita, menjadi
insaf terhadap “kemakhlukan” kita, dan menjadi lebih ingat terhadap “kehambaan”
kita. Karena kita ini semuanya adalah manusia, kita semua adalah makhluk, dan
kita semua adalah hamba Allah swt yang lemah dan tidak berdaya di hadapan hukum
Allah swt. Sudah seharusnya kita menjauhkan sifat-sifat buruk terhadap sesama,
seperti angkuh, sombong, sewenang-wenang, dan sejenisnya mapun sifat-sifat tak
terpuji terhadap Allah swt seperti suka berbuat dosa, melakukan perbuatan
maksiat dan tercela, atau lalai mentaatiNya. Sebaliknya, sudah semestinya kita
menghiasi diri kita masing-masing dengan sifat-sifat yang terpuji, baik
terhadap sesama makhluk dan terutama terhadap Allah swt sebagai Khalik
(Pencipta).
Terhadap sesama makhluk; kita ciptakan, kita pelihara,
dan kita tingkatkan suasanaukhuwah (persaudaraan), suasana ta’awun (gotong-royong), saling membantu dan
tolong-menolong dalam kebaikan, dan saling memelihara diri dari berbuat
kerusakan, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap lingkungan alam sekitar
kita. Semua yang telah kita sebutkan itu adalah merupakan perintah-perintah
agama yang harus kita kerjakan demi kebaikan hidup kita bersama.
Terhadap Allah swt, Pencipta, Pengatur, dan Pemelihara
alam seisinya; kita perbarui, kita tingkatkan, dan kita pelihara keimanan kita
masing-masing terhadapNya. Kita sucikan iman kita masing-masing dengan membuang
jauh-jauh kepercayaan atau tahayul-tahayul yang bukan-bukan, seperti matahari
ditelan raksasa, gerhana terjadi karena mati atau lahirnya seseorang, dan lain
sebagainya yang tidak sesuai dengan akal dan petunjuk agama. Marilah kita
hayati betul-betul syahadat atau kesaksian kita bahwa Tiada Tuhan selain Allah
dan Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah. Hanya kepada Allah saja kita
menyembah dan hanya kepadaNya kita bersujud; tidak kepada matahari, bulan,
bintang, atau makhluk apapun juga; dan kita ikuti risalah Rasulullah saw dengan
sekuat-kuatnya.
Insya Allah, dengan berbuat baik kepada sesama dan
terhadap Allah, kita semua akan menemukan kehidupan yang baik, kehidupan yang
menjadi cita-cita kita semua, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.
Dalam menempuh usaha demikian, jangan lupa senantiasa berdoa kepada Allah,
karena doa adalah media komunikasi utama hubungan antara makhluk dengan
Khaliknya. Melupakan doa berarti melupakan kemanusiaan, kemakhlukan, dan
kehambaan kita yang sebenarnya.
Akhirnya, sebagai penutup khutbah ini, marilah
bersama-sama kita panjatkan doa ke hadirat Allah swt dengan ikhlas dan sepenuh
perasaan hati. Mudah-mudahan dengan kebersamaan kita dalam berdoa ini Allah
akan mengabulkannya. Aamiin...
Semoga Manfaat, kami
mengajak anda bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>>
Layanan Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti Asuhan Muhammadiyah Krembangan :
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493 08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493 08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
> SMS Center :
0815 1518 3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet ) – 0822 4526 5090 ( Bp. Tulus )
0815 1518 3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet ) – 0822 4526 5090 ( Bp. Tulus )

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !