| Program Da'i Muda / Muhadoroh oleh Ananda " U K. Nisa " |
KISAH yang tertuang dalam rangkaian ayat
Al-Qur’an ternyata sangat indah dan “bisa” memberi inspirasi yang tak ternilai
bagi siapa pun yang mau bertadabur dengan ayat-ayat itu. Tak terkecuali kisah
Abu Lahab dalam Qs. Al-Lahab.
Dikisahkan dalam kajian tafsir Qs Al-Lahab,
bahwa ketika turunnya ayat 214, Qs. Asy- Syu’arâ’ (26), “dan berilah peringatan
kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, Rasulullah saw keluar hingga naik ke
atas bukit Shafa dan berseru, “Wahai sekalian manusia.” Orang-orang Quraisy pun
bertanya, “Siapakah orang ini?” Akhirnya mereka pun berkumpul bersama beliau.
Beliau pun bersabda, “Bagaimana pendapat kalian, jika aku mengabarkan, bahwa di
balik bukit ada pasukan berkuda yang akan segera keluar (menerkam), apakah
kalian akan membenarkanku?” Mereka menjawab, “Ya, kami belum pernah mendengar
bahwa kamu berdusta.” Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya aku adalah
seorang pemberi peringatan bagi kalian, bahwa di hadapanku ada adzab yang
sangat pedih.”
Maka Abu Lahab pun (spontan) berkata, “Celaka kamu (wahai Muhammad). Apakah hanya lantaran ini kamu mengumpulkan kami?” Setelah itu, ia langsung beranjak, dan turunlah firman Allah, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (HR al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas, Shahîh al-Bukhâriy, juz VI, hal 221. hadits no. 4971)
Maka Abu Lahab pun (spontan) berkata, “Celaka kamu (wahai Muhammad). Apakah hanya lantaran ini kamu mengumpulkan kami?” Setelah itu, ia langsung beranjak, dan turunlah firman Allah, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (HR al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas, Shahîh al-Bukhâriy, juz VI, hal 221. hadits no. 4971)
Abu Lahab—paman Rasulullah saw—adalah “penentang
dakwah Islam” yang amat keras, melebihi dari “kerasnya penentangan” para
penentang yang lain. Bahkan —kata para sejarawan— melebihi sikap Abu Jahal yang
dikenal sebagai seteru abadi Rasulullah saw. Sikapnya itu diikuti juga istrinya
Bahkan Abu Lahab —di kemudian hari— “meninggal
dunia” dalam keadaan sangat mengenaskan, karena terlalu sakit hati ketika
mendengar kekalahan kaum Quraisy dalam peperangan Badar. Mendengar berita
duka itu, dia sangat kecewa. Kekesalan dan kekecewaannya—menurut kisah yang
diceritakan para sejawaran—tersimpul di wajah jenazahnya. Sedang istrinya pun
mendapatkan nasib sebagaimana yang dialami suaminya. Upayanya untuk menghalangi
dakwah, yang antara lain dilakukan dengan cara memfitnah Rasulullah saw,
mengalami “kegagalan”.
Pelajaran yang sangat berharga yang bisa kita
peroleh dari kisah ini, antara lain.
> Pertama, ketika kesombongan dan hasad (iri
dan dengki) telah melekat pada diri seseorang, maka seseorang akan terhalang
untuk mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah SwT. Meskipun Abu Lahab dan
istrinya sebenarnya bisa memahami “esensi kebenaran” ajaran Islam yang
didakwahkan Nabi Muhammad saw, namun—karena dorongan hawa nafsunya—dia memilih
untuk bersikap sama dengan “Fir’aun”, yang—dengan sombong dan
kedengkiannya—menentang dakwah Nabi Musa as. Dan siapa pun yang “mengulangi” perbuatan
Abu Lahab (dan juga istrinya) kapan pun dan di mana pun, serta dengan cara apa
pun akan mengalami nasib yang sama dengan Abu Lahab dan istrinya, terjauhkan
dari hidayah dan taufik (dari) Allah.
> Kedua, setiap penentang kebenaran yang datang
dari Allah—dengan cara apa pun—akan selalu mengalami kegagalan dalam setiap
upayanya. Dan bahkan—pada akhirnya—akan mendapatkan adzab dari Allah,
sebagaimana yang telah dialami Abu Lahab dan istrinya.
Nah, “apakah kita—saat ini—akan mengulangi
kesalahan yang pernah dilakukan Abu Lahab?” Tentu saja jawabnya, “Tidak!”
Sebagai pengikut setia Rasulullah saw—tentu saja—kita harus menyiapkan diri
untuk menghadapi tantangan “duplikat Abu Lahab”.
Kita hadapi makar Abu
Lahab-Abu Lahab kontemporer yang selalu akan berusaha menghambat dakwah Islam
dengan sikap sabar dan tawakal. Karena Abu Lahab sebagaimana Fir’aun dan
orang-orang yang menentang dakwah para Rasul Allah memang telah tiada. Namun
bukan berarti karakter yang mereka miliki tak kan pernah bisa terwariskan kepada
siapa pun. Hingga kapan pun di belahan bumi ini akan selalu ada “manusia” yang
berkarakter seperti Abu Lahab dengan sejumlah kroninya yang mungkin saja lebih
berbahaya dari pada Abu Lahab yang pernah menjadi “seteru” Rasullullah saw dan
umat Islam pada masa itu, karena mereka bisa belajar dari kegagalan Abu Lahab
dan berupaya untuk memperbaiki strategi perjuangannya untuk mengalahkan para
pengikut Rasulullah saw, di mana pun dan kapan pun.
Kepada Allah kita bermohon. Semoga Allah
senantiasa berkenan menyertai perjuangan para da’i yang senantiasa bersikap
istiqamah untuk beramar ma’ruf nahi munkar di tengah “tantangan” para manusia
yang mungkin saja tengah dikitari sejumlah orang yang berkarakter seperti Abu
Lahab. Āmîn Yâ Mujîbas Sâilîn.•
Semoga
Manfaat, kami mengajak anda bergabung menjadi Mitra Peduli Sesama :
>>> Layanan
Zakat,Infaq,Shodaqoh Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Krembangan :
1. BRI unit Demak, No Rek . 0880-01-020990-53-0
2. Bank Jatim capem Rajawali, No Rek. 0372 0493
08
An. Panti Asuhan KH. Achmad Dahlan.
> SMS Center :
0822 3182 1721
( Bp Untung S ) - 0815 1518 3979 ( Bp Hambali ) – 0851 0090 1829 ( Bp. Slamet )
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !