Kajian Keluarga Sakinah
Assalamu’alaikum wr wb.
![]() |
| anakku izza bersama kak isnain & iskandar |
Ibu Emmy yth, saya (27 tahun) ibu dari seorang putra (3 tahun). Saya seorang
yang temperamental. Kini saya sadar dan ingin berubah, Bu. Saya suka memukul
anak saya, jika saya marah terhadapnya. Meskipun setelah melakukan hal tersebut
saya selalu minta maaf dan memeluknya. Rasanya menyesal, tapi kenapa saya
sering lepas kontrol.
Saya tidak ingin putra saya meniru perilaku buruk saya, Bu. Saya melihat putra
saya mulai meniru perilaku emosional saya. Saya ingin berubah agar putra saya
tumbuh menjadi pribadi yang baik. Saya tidak tahu harus bagaimana, tolong saya,
Bu!
Wassalamu’alaikum wr wb.
Wenny, di Lampung
Wa’alaikumsalam
wr wb.
Ibu Wenny
yth, tidak ada sekolah menjadi orangtua, ya, Bu. Tetapi, jangan lupa agama kita
menganjurkan untuk belajar sampai liang lahat. Ini sejalan dengan tuntutan di
era masa kini. Perubahan yang cepat di segala aspek menuntut kita untuk
menyesuaikan diri. Kita juga dituntut untuk mempertahankan beberapa aspek
kehidupan untuk dijadikan pegangan hidup. Maka, proses penyesuaian diri harus
diimbangi dengan mempertahankan nilai-nilai kehidupan dan visi berkeluarga yang
menjadi acuan dalam menjalani hidup. Semakin kita sadar akan nilai kehidupan
yang dianut, semakin mudah dan cepat kita memutuskan perilaku mana yang harus
dibiasakan untuk dijadikan pola kehidupan, termasuk perilaku yang perlu segera
ditinggalkan, meski sudah lama melekat dalam diri kita.
![]() |
| anaku bersama bundanya ( yulia santi ) |
Untuk perilaku yang sudah lama melekat,
biasanya memang berlangsung dalam proses yang tak disadari. Bila sejak kecil
dibesarkan oleh orangtua yang suka memukul anaknya, maka kita akan berpandangan
bahwa kekerasan fisik orangtua pada anaknya adalah hal biasa. Akibatnya, saat
ia menjadi orangtua, ia akan melakukan hal yang sama. Sehingga, lingkaran
kekerasan akan bergulir dalam keluarga. Padahal memukul anak tak pernah bagus
dampaknya bagi perkembangan jiwa anak.
Pengalaman adalah guru terbaik. Nyatanya, tidak
semua orang beruntung memperoleh pengalaman baik dalam hidupnya. Maka, kita
perlu waspada karena tak semua pengalaman guru yang terbaik. Apalagi kalau
pengalaman itu adalah hasil perlakukan keras, kasar, menyakiti fisik (pukulan)
maupun mulut (bentakan kasar).
Di usianya, putra ibu belajar melalui proses
melihat dan meniru orang terdekat. Bahasa psikologinya proses imitasi. Sejalan
dengan pertumbuhan fisiknya, ia akan mencapai tahap perkembangan lebih tinggi
lagi, hingga terjadi proses identifikasi yaitu saat ia ingin menjadi seperti
ibu/ bapaknya. Maka bila ibu ingin putranda tumbuh dan berkembang dengan
kualitas kepribadian baik. Buatlah diri menjadi contoh yang juga baik. Bersikap
emosional merupakan kebiasaan bereaksi tanpa berpikir dengan nalar.
![]() |
| berbagi pada sesama |
Saat kita bisa menunda respons, maka ada waktu
untuk berpikir sejenak. Mungkin si Kecil sedang sakit perut, kepalanya pusing
atau belum banyak perbendaharaan kata-katanya. Kalau kita berpikir demikian
kita bisa mengambil keputusan yang lebih baik. Kasihan kan kalau dimarahi,
padahal ia sedang butuh bantuan.Kalau anak terasa sangat menjengkelkan, Ibu
boleh menjauh sejenak. Biasanya, ini akan menumbuhkan kesabaran dan menahan
diri untuk berbuat kasar pada anak.
Dalam tahapan perkembangan anak usia 3-4 tahun
adalah fase pembangkangan pertama yang disebut “trotz”. Belum selesai ibunya
bicara ia sudah bilang, “Tidak mau, tidak bisa” atau kalimat negatif lainnya.
Bila ibunya sabar dan tegas lama-lama ini akan hilang dengan sendirinya. Lalu,
usia 12-13 tahun akan muncul masa pubertas pertama. Puncaknya, di masa
remajanya kelak.
Perkenalkan nilai-nilai kehidupan yang baik
serta perilaku konkret yang dilandasi respek pada orang lain. Tentang mengapa
harus jujur. Mengapa harus bekerja keras sebelum menikmati hasil jerih payah.
Ajarii anak untuk membedakan yang baik dan buruk sejak dini untuk memudahkan
anak menentukan sikap hidupnya kelak.
Semakin besar anak,
kebutuhannya untuk bisa mengobrol dengan ibupun berkembang. Maka sejak sekarang
jadilah teman ngobrol yang menyenangkan bagi anak. Artinya, Ibu belajar menjadi
pendengar yang baik, tidak menyela ketika ia bicara dan tidak perlu cepat
menyimpulkan saat ia bercerita. Insya Allah anak akan mempunyai kepercayaan
pada ibunya.•
***)
Emmy Wahyuni, Spsi., seorang pakar psikologi.
http://suaramuhammadiyah.com/wawasan/2016/01/28/menyesal-setelah-kasari-anak/



Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !