Hadeuh, kalo nulis “berubah” kok ya
jadi inget Kamen Rider Black (Pengendara Bertopeng Hitam) kalo di negeri kita,
judulnya jadi agak jauh—dan lebih gagah, yakni Ksatria Baja Hitam yang pernah
ditayangkan RCTI. Maklum, nih yang nulis masa remajanya di awal tahun 90-an
sih. Hehehe.. iya.
Kata-kata itu selalu ada di film fiksi
asal Jepang tersebut: Berubah! Mungkin kalo nggak berubah si Kotaro Minami
bakalan kalah deh. Pada versi asli, KBH yang merupakan jelmaan dari Kotaro
Minami (diperankan Tetsuo Kurata) ini, memiliki sebuah kata kunci untuk membuat
Sabuk Pengubahnya (Henshin Belt) berfungsi. Kata-kata itu adalah “Henshin” yang
artinya berubah. Hmm.. pasti deh pada senyum-senyum nih yang masa remajanya di
awal tahun tahun 90-an. Ayo ngaku! Jadi nostalgia ya?
Bro en Sis rahimakumullah, kali ini
sengaja menulis tema ‘berubah” agar kamu nggak hanya manteng di
kondisi yang sama seperti sekarang. Banyak hal insya Allah yang akan dibahas,
walau pasti ada batasnya ya. Nah, ngomongin berubah, selain saya jadi inget
soal KBH (Ksatria Baja Hitam) dengan Belalang Tempur-nya, juga ingin
mengingatkan diri sendiri dan kamu semua bahwa hidup kita sejatinya terus
mengalami perubahan. Buktinya, kamu terus berubah. Kalo usiamu sekarang 17
tahun, maka 15 tahun lalu kamu masih balita. Yup, secara fisik memang terjadi
perubahan. Semoga juga cara berpikir dan berperilaku juga pastinya berubah. Iya
kan? Seharusnya sih, begitu. Walau kadang ada juga yang nggak mau berubah ke
arah kebaikan meski udah nggak bocah lagi.
Jangan sampai seumur-umur kita
shalatnya nggak pernah benar. Shalat yang kita lakukan hanya sekadar
menggugurkan kewajiban aja, bukan dalam pengertian “mendirikan” shalat. Itu sebabnya,
menurut ustaz tersebut, shalat yang kita lakukan nggak membekas dalam kehidupan
keseharian kita. Nggak bisa bikin kita tercegah dari perbuatan keji dan munkar.
Itu bisa karena shalat kita nggak benar. Maka, saatnya kita berubah. Sebab,
dengan shalat yang benar dan baik sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, kita berharap selain diterima ibadah shalatnya, juga ngefek
dalam kehidupan kita. Jadi lebih baik, gitu. Semoga.
Nah, itu
sebabnya, yuk kita berubah. Tentu saja dari kehidupan yang buruk menjadi baik.
Kalo dulu banyak maksiatnya, ya sekarang, mumpung Ramadhan, kita habisi
maksiatnya dan perbanyak amal shalih. Mau? Harus mau dong!
Berhentilah
dari maksiat.
Memang sih,
pengennya ketika Ramadhan tiba, maksiat serta merta jeda, atau malah reda sama
sekali. Tapi lain di harapan, lain pula dalam kenyataan. Di satu sisi, kita
nggak menutup mata kalo memang ada perubahan yang berarti bagi sebagian dari
kita. Tapi kita juga prihatin, sebab masih ada juga yang nggak kenal kata akhir
dalam maksiat. Meski bulan Ramadhan, eh dibabat juga alias tetap maksiat. Orang
model begini memang rada susah diajak untuk baik.
Coba deh kalo
kamu jalan-jalan ke pasar, meski di hari pertama bulan puasa, sudah banyak
dijumpai mereka yang melalaikan kewajiban puasa. Konyolnya, sambil melayani
pembeli mulutnya nggak berhenti ngunyah makanan. Padahal, mereka muslim lho.
Tapi apa mau dikata, orang model begitu maunya menang sendiri. Kalo disebut
bukan Islam kayaknya bakalan murka. Tapi, kelakuannya malah bertolak belakang
dengan prinsip hidup seorang muslim. Apa nggak aneh tuh orang?
Malah, bulan
suci Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum untuk menambah kuantitas dan
memperbaiki kualitas amal shaliah, ternyata justru dinodai dengan tetap bukanya
tempat-tempat hiburan yang full maksiat
dan warung or rumah makan yang buka di siang hari bulan Ramadhan. Coba, siapa
yang kagak dongkol? Bener-bener nggak menghargai dan nggak menghormati yang
sedang shaum.
Kacaunya nih,
bisnis seks alias pelacuran tetap jalan kok. Meski sembunyi-sembunyi, tetapi
‘baunya’ tetap terasa kok. Bisnis pelacuran konvensional sampai yang online
tetap eksis. Waduh. Nggak malu atau bebal tuh? Gawat banget ya? Rasa-rasanya
perlu juga menyimak hadis terkait hal tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: “Apabila
zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama
saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.” (HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hlm. 132)
Sobat, terus
terang seharusnya kita sedih, kesal, dan juga kecewa dengan kenyataan ini.
Ternyata Ramadhan, bagi sebagian dari kaum muslimin yang masih getol maksiat,
tidak membuat mereka berhenti dan meninggalkan kebiasaan buruk dan terkutuknya
itu. Malah tetep maju terus pantang mundur. Mereka bisa berbuat begitu, selain
karena kebodohannya, juga karena kemalasannya untuk mencari ilmu, yakni malas
untuk mengetahui tentang ajaran Islam. Jadi ada kesan masa bodoh dengan ajaran
Islam. Dengan demikian, orang model begini layak dicap sebagai orang yang tak
mau tahu dengan ajaran Islam. Bahaya sobat.
Begitu pula
kita prihatin dengan kondisi pergaulan teman-teman remaja, baik di kota maupun
di desa. Ternyata aktivitas maksiatnya tetep jalan meski sedang berpuasa. Ambil
contoh tentang pergualan laki-perempuan, sampe sekarang masih dijumpai remaja
yang tak bisa lepas dari pacaran. Maka jangan kaget jika acara JJS (Jalan-Jalan
Subuh) di bulan Ramadhan jadi ajang untuk PDKT dengan pasangannya. Hasilnya,
mulut mereka memang puasa dari makan dan minum, tapi beliau-beliau ini tidak
tidak puasa dari berbuat maksiat. STMJ, Shaum Terus, Maksiat Jalan! Waduh!
Itu sebabnya
nih, teman-teman yang masih doyan maksiat, tolong hentikan semua aktivitas
tercela itu. Mari kita mengubah diri kita dengan Islam, dan tentunya tidak
setengah-setengah, tapi kudu totalitas dengan tuntunan Islam. Islam adalah
satu-satunya solusi untuk kemaslahatan manusia di muka bumi ini. Maka sungguh
heran jika masih ada manusia yang nggak demen dengan Islam. Apalagi sampe
membencinya setengah mati (atau malah sampe mati kali ya?). Tentu saja kita
nggak ingin menyaksikan ada umat Islam yang tidak kenal dengan ajaran agamanya
sendiri. Mengerikan banget kalo memang itu terjadi. Semoga saja, temen-temen
remaja segera sadar dari kekeliruannya. Oke deh, pengennya kita neh, kamu-kamu
bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat. Jadi, jangan coba-coba
maksiat lagi ya?
Saatnya
berubah!
Sobat , kalo
merhatiin perkembangan sekarang, kayaknya dari kita-kita jadi pada malu untuk
berbuat baik. Nggak semua sih, tapi.. ada aja. Aneh memang. Padahal, justru
kudu bangga kalo kita berbuat kebenaran dan kebaikan sesuai ajaran agama kita,
Islam. Mau bukti?
Hmm..
kelihatannya udah mengikis rasa bangga menjadi seorang muslim. Teman remaja
kita justru bisa merasa bangga ketika menyandang predikat yang wah di mata
masyarakat umum. Misalnya, ada anak (sekaligus orang tuanya) yang bangga kalo
jadi bagian dari anggota paskibra (pasukan pengibar bendera). Ada juga yang
bangga jika doi adalah pemain basket jempolan. Maka, jangan kaget kalo doi
kerapkali memamerkan keterampilannya dalam memainkan bola basket tersebut. Ada
juga teman yang merasa udah hebat kalo doi jadi orang yang wara-wiri di
panggung show.
Sayangnya,
kebanggaan semu seperti itu seperti telah mengubur kebanggaan lainnya, yang
justru kudu dimiliki setiap muslim, yakni bangga menjadi seorang muslim. Sori,
bukannya kita merendahkan teman-teman yang punya keahlian di bidang yang tadi
kita sebutkan. Nggak. Kita ‘menghargai’ kok. Tapi inget lho, kebanggaan
seperti itu nggak akan memberikan kontribusi yang besar untuk kemajuan Islam.
Lagian itu kan kebanggaan semu. Catet!
Oke, rasanya
kudu ditumbuhkan kembali kebanggaan menjadi seorang muslim. Itu sebabnya,
jangan minder kalo jadi anak muslim. Jangan pernah merasa bersalah dan
mengutuki diri sendiri hanya gara-gara kamu muslim. Sehingga membuat kamu kudu tampil
dengan gaya hidup seperti orang-orang Barat. Kamu pun jadi terbiasa dengan
model kehidupannya. Bahkan untuk sekadar nama saja, kamu pengen nama itu
terdengar modern, dan tentu mengandung unsur dari ‘kulon’ biar disebut keren.
Duh!
Sobat
gaulislam, dengan menuliskan gambaran seperti itu, tentunya ingin mengajak kamu untuk berubah. Jadi berharap
kamu jangan males, apalagi malu untuk berubah menjadi baik. Kalo dulu kamu
bangga dengan hal-hal sepele, termasuk bangga menjadi bagian dari masyarakat
Barat, maka sekarang tunjukan kebanggaan kamu sebagai seorang muslim. Allah
Ta’ala akan menolong orang-orang yang memang mau mengubah dirinya. Firman Allah
Ta’ala:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra’d [13]: 11)
Dalam ayat
lain, Allah Ta’ala akan menolong orang-orang yang beriman. Jadi, kalo pengen
ditolong oleh Allah di dunia dan di akhirat, maka jangan malu untuk berbuat
baik (baca: beriman). Ayo, berubah! Allah Ta’ala menjelaskan:
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul
Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari
berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (QS al-Mukmin [40]: 51)
Yuk, kita
benahi diri kita untuk menjadi baik mumpung bulan Ramadhan. Semoga Allah Ta’ala
menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mendapat berkah, rahmat, dan
ampunan. Jadi, jangan takut untuk berubah menjadi baik! Semoga ‘semangat’
Ramadhan ini bikin kita berhenti sama sekali dari perbuatan maksiat. Dan
sebaliknya, kita getol beribadah. Amin

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Monggo Sarang & Kritiknya !